TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGANGKATAN ANAK ( ADOPSI ) DAN PEMBAGIAN HARTA WARISNYA

  • Nashir Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan
  • admin admin Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan
  • Hadi Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan
Keywords: Hukum Islam, Adopsi dan Pembagian Harta Waris

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang status (kedudukan)
anak angkat tersebut sebagai ahli waris orang tua angkatnya. Namun menurut
Hukum Islam, Anak Angkat tidak dapat diakui untuk bisa dijadikan dasar dan
sebab mewarisi, karena prinsip pokok dalam hukum kewarisan Islam adalah
adanya hubungan darah / nasab / keturunan. Adapun permasalahan yang dibahas
dalam kajian ini adalah bagaimana prosedur pengangkatan anak (Adopsi) dan
pembagian harta warisnya serta Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap
pengangkatan anak (Adopsi) dan pembagian harta warisnya tersebut. Jenis
Penelitian ini adalah Yuridis Sosiologis (Sosiological Jurisprudence), yakni
peneliti mengkaji mengenahi Implementasi hukum atau bekerjanya hukum dalam
kehidupan masyarakat dan dengan menggunakan metode perundang-undangan
(Statute Approach), yakni dengan mengkompilasi Hukum Islam pasal 209,
terhadap anak angkat dan orang tua angkat yang tidak meneriwa wasiat, dapat
diberikan Wasiat Wajibah sebanyak-banyaknya sepertiga dari harta orang tua
angkatnya.
3 Menurut Hukum Islam, anak angkat tidak dapat diakui untuk bisa
dijadikan dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokoknya adalah adanya
hubungan darah / nasab / keturunan.
4 Dengan kata lain bahwa peristiwa
pengangkatan anak menurut hukum kewarisan Islam, tidak membawa pengaruh
hukum terhadap status anak angkat, yakni bila bukan merupakan anak sendiri,
tidak dapat mewarisi dari orang yang mengangkat anak tersebut. Maka sebagai
solusinya menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam) berdasar pada ketentuan
Hukum Islam, yakni memutuskan hubungan darah antara anak angkat dengan
orang tua kandung. Anak angkat tidak berkedudukan sebagai pewaris dari orang
tua angkat, melainkan tetap sebagai pewaris dari orang tua kandungnya. Orang
tua angkat tidak dapat bertindak sebagai wali nikah dalam perkawinan terhadap
anak angkatnya.

Published
2020-09-16