PANDANGAN TOKOH NAHDATUL ULAMA TENTANG TRADISI LARANGAN MENIKAH DI BULAN SURO PERSPEKTIF 'URF

(Studi di Kabupaten Pringsewu)

  • Zamzami UIN Raden Intan Lampung
  • admin admin Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan
Keywords: Nahdatul Ulama, Larangan Menikah, Bulan Suro, 'Urf

Abstract

Indonesia memiliki berbagai macam suku, kebudayaan, dan adat. Setiap
suku yang ada di Indonesia memiliki adat kebiasaan yang berbeda dari yang
lainnya. Salah satunya masyarakat Jawa yang memandang bulan Suro adalah
bulan yang sangat baik tetapi juga sekaligus sebagai bulan yang penuh bahaya.
Salah satunya Masyarakat Pingsewu khususnya yang adatnya Jawa selama ini
masih tetap menjaga tradisi peninggalan nenkmoyang nya, hal ini ditandai
dengan diadakan kenduri, dan pertunjukan kesenian seperti wayang kulit dll.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah Apa yang menjadi alasan
masyarakat adat Jawa melakukan larangan menikah pada bulan Suro di
Kabupaten Pringsewu? Bagaimana ketentuan hukum Islam terhadap larangan
menikah pada bulan Suro bagi masyarakat adat Jawa di Kabupaten Pringsewu?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif. Peneliti menggunakan pengumpulan data meliputi: observasi,
wawancara, dan dokumentasi.
Sebagai Potret di dalam kehidupan bermasyarakat bahwa, masyarakat adat
Jawa di Kabupaten Pringsewu yang masih mempercayai kebiasaan larangan
melakukan pernikahan di bulan Suro, dengan alasan apabila dilakukan akan
menimbulkan bencana atau malapetaka. Karena itu adalah kebiasaan yang terus
berlaku dari zaman dahulu hingga saat ini sehingga pantas dihormati, karena
itu semua sebagai kenyataan sejarah. Sebagaian tokoh Nahdatul ulama masih
ada yang mengikuti adat kebiasaan itu dengan alasan itu adalah bulan yang
sangat mulya, sehingga pada bulan itu di haruskan perbanyak mendekatkan diri
pada Allah, jangan sampai melakukan hura-hura seperti mengadakan hajatan
atau pernikahan. Akan tetapi itu hanya himbuan jangan melaksanakan
pernikahan, tidak sampai menghukumi haram. Dan sebagain tokoh Nahdatul
ulama tidak mengikuti adat tersebut karena dalam Islam pun di dalam Al-
Qur‟an dan Hadist tidak ada aturan yang melarang melakukan pernikahan pada
bulan-bulan atau waktu-waktu tertentu. Pada bulan Muharam atau Suro itu
bagus untuk mengadakan hajatan pernikahan karena bulan tersebut termasuk
bulan yang dimulyakan dalam A-Qur‟an dan Hadist.

Published
2020-09-16